KATA PENGANTAR
Puji syukur kahadirat Tuhan Yang Maha
Esa atas petunjuk, rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan Laporan
Praktikum ini tanpa ada halangan apapun sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan Laporan ini disusun berdasarkan pengalaman dan ilmu yang saya
peroleh selama Praktikum. Laporan ini dapat kami selesaikan sesuai dengan yang
diharapkan. Dalam makalah ini kami membahas tentang Laju Reaksi
Laporan ini dibuat dalam rangka memperdalam
pemahaman tentang Laju Reaksi
Dalam proses pendalaman materi ini,
tentunya kami mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi dan saran, untuk itu rasa
terimakasih yang sedalam –dalamnya kami sampaikan kepada :
-
Dra. Hasinah Martini
selaku guru mata pelajaran kimia.
Demikian Laporan ini kami buat semoga bermanfaat dalam
mempermudah pemahaman kami dalam mempelajari ilmu kimia.
Mataram, 28
November 2012
Penyusun
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kecepatan atau laju reaksi adalah perubahan konsentrasi pereaksi maupun product dalam suatu satuan waktu. Laju suatu reaksi dapat dinyatakan sebagai laju berkurangnya konsentrasi suatu pereaksi atau laju bertambahnya konsentrasi suatu pereaksi hasil (produk) umumnya laju reaksi meningkat dengan meningkatnya konsentrasi. Laju reaksi dapat dinyatakan dengan persamaan matematik yang dikenal sebagai hukum laju atau persamaan laju.
aA + bB → cC + dD
Dimana a, b, c, d merupakan koefisien reaksi. Laju reaksi dapat dinyatakan
dengan :
V = k [A]x [B]y
Lambang [A][B] menunjukkan konsentrasi molar, pangkat x dan y merupakan
angka – angka bulat yang kecil, perlu diingat bahwa tidak ada hubungan antara
pangkat x, y dengan koefisien reaksi a, b, c, dan d.Bagaimanapun, untuk lebih formal dan matematis dalam menentukan laju suatu reaksi, laju biasanya diukur dengan melihat berapa cepat konsentrasi suatu reaktan berkurang pada jangka waktu tertentu. Sebagai contoh andaikan kita memiliki suatu reaksi antara dua senyawa A dan senyawa B. Misalkan setidaknya salah satu diantara mereka merupakan zat yang bisa diukur konsentrasinya misalnya, larutan atau dalam bentuk gas.
A + B → product
Untuk reaksi ini kita dapat mengukur laju reaksi dengan menyelidiki berapa
cepat konsentrasi katakana A berkurang per detik, kita mendapatkan, sebagai
contoh pada awal reaksi konsentrasi berkurang dengan laju 0,004 mol/dm3 s.
Hal ini berarti tiap detik konsentrasi A berkurang 0,004 mol per desimeter
kubik. Laju ini akan meningkat seiring reaksi dari A berlangsung.BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Laju Reaksi
Laju reaksi adalah cepat atau lambatnya suatu reaksi berlangsung. Pengetahuan tentang laju reaksi sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari – hari dan industry. Laju reaksi ditentukan melalui percobaan, yaitu dengan mengukur banyaknya pereaksi yang dihabiskan atau banyaknya produk yang dihasilkan dalam waktu tertentu.Perhatikan persamaan reaksi umun berikut.
A → B
Ketika
awal reaksi, yang tersedia adalah konsentrasi A, sedangkan konsentrasi B belum
ada. Setelah beberapa waktu reaksi berlangsung, konsentrasi A akan berkurang
sedangkan konsentrasi B mulai bertambah. Jadi, laju reaksi didefinisikan
sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi tiap satuan waktu.
Secara matematis dirumuskan dengan.
Laju Reaksi = V
- Molaritas
V = k [A]x[B]y
Dimana : V = Laju
ReaksiK = konstanta kecepatan reaksi
x = orde reaksi zat A
y = orde reaksi zat B
Tetapan reaksi (k) ialah suatu tetapan yang hanya bergantung pada jenis pereaksi, suhu, dan katalis harga k akan berubah jika suhu berubah. Reaksi yang berlangsung cepat memiliki harga k yang besar. Orde reaksi adalah bilangan pangkat yang menyatakan bertambahnya laju reaksi akibat naiknya konsentrasi. Pada reaksi di atas, x adalah orde reaksi terhadap A dan y adalah orde reaksi terhadap B. Orde reaksi keseluruhan adalah x + y.
- Laju Rerata
- Laju Sesaat
2.2 Faktor – faktor yang mempengaruhi laju reaksi
- Luas Permukaan Sentuh
- Suhu
ARRHENIUS:
|
k = A . e-E/RT
|
dimana: k : tetapan laju reaksi
A : tetapan Arrhenius yang harganya khas untuk
setiap reaksi
E : energi pengaktifan
R : tetapan gas universal = 0.0821.atm/moloK
= 8.314 joule/moloK
T : suhu reaksi (oK)
V = Vo
Dengan : V = Laju
reaksi akhir
Vo = Laju reaksi mulu – mula
n = Setiap kenaikan n kali
ΔT = Perubahan suhu
a = Kenaikan setiap a°C
- Katalis
1.
Katalis Homogen
Katalis homogen umumnya bereaksi dengan satu atau
lebih pereaksi untuk membentuk suatu perantara kimia yang selanjutnya bereaksi
membentuk produk akhir reaksi, dalam suatu proses yang memulihkan katalisnya.
Berikut ini merupakan skema umum reaksi katalitik, di mana C melambangkan
katalisnya:
A + C → AC . . . . . . .(1)
B + AC → AB + C . . . . (2)
Meskipun katalis (C) termakan oleh reaksi 1, namun
selanjutnya dihasilkan kembali oleh reaksi 2, sehingga untuk reaksi
keseluruhannya menjadi :
A + B + C → AB + C
2. Katalis
Heterogen
Katalis heterogen adalah katalis yang ada dalam
fase berbeda dengan pereaksi dalam reaksi yang dikatalisinya, sedangkan katalis
homogen berada dalam fase yang sama dengan pereaksi dalam reaksi yang
dikatalisnya. Satu contoh sederhana untuk katalisis heterogen yaitu bahwa
katalis menyediakan suatu permukaan di mana pereaksi-pereaksi (atau substrat)
untuk sementara terjerat. Ikatan dalam substrat-substrat menjadi lemah
sedemikian sehingga memadai terbentuknya produk baru. Ikatan antara produk dan
katalis lebih lemah, sehingga akhirnya terlepas.
Beberapa katalis yang pernah dikembangkan antara
lain berupa katalis Ziegler-Natta yang digunakan untuk produksi masal
polietilen dan polipropilen. Reaksi katalitis yang paling dikenal adalah proses
Haber, yaitu sintesis amoniak menggunakan besi biasa sebagai katalis. Konverter
katalitik yang dapat menghancurkan produk emisi kendaraan yang paling sulit
diatasi, terbuat dari platina dan rodium.
2.3 Orde Reaksi
Orde suatu reaksi ialah jumlah semua eksponen dari konsentrasi dalam persamaan laju. Orde suatu reaksi tak dapat diperoleh dari koefisien pereaksi. Dalam persamaan berimbangnya, akan tetapi hanya akan diperoleh dari penetapan eksperimen dengan cara menentukan bagaimana pengaruh perubahan konsentrasi pada laju reaksi ( laju reaksi bergantung pada konsentrasi pereaksi – pereaksi tertentu ).- Orde nol
Dimana k adalah konstanta laju orde nol. Persamaan diferensial di atas dapat diintegrasikan dengan kondisi – kondisi awal t = 0, [A] = [A]0
[A] = [A]0 – kt atau k
Persamaan di atas menyatakan bahwa laju reaksi orde nol tidak tergantung pada konsentrasi reaktan.
- Orde Satu
V = k [A] yang pada integrasi memberikan
ln = ln [A]0 – kt atau [A] = [A]0 e-kt atau k
[A] adalah konsentrasi reaktan pada t = 0. Secara grafik untuk reaksi – reaksi orde satu, plot ln [A] atau log [A] terhadap t harus berupa garis lurus. Intersep merupakan konsentrasi pada t = 0 dan k dapat dihitung dari kemiringan grafik (slope).
- Orde Dua
- Tipe 1
2A → produk = k [A]2
Yang pada integrasi memberikan : + kt
Dimana [A]0 adalah konsentrasi reaktan pada t = 0
- Tipe 2
aA + bB → produk
Dimana a ≠ b dan [A]0 ≠ [B]0 . Persamaan laju diferensial adalah
. V = k [A][B]
Dan persamaan laju yang diintegrasikan adalah ln = kt
Jika a = b = 1, persamaan menjadi :
- ln = kt
- Orde Tiga
- Tipe 1
Reaktan → produk
Dan persamaan yang diintegrasikan dengan = pada t = 0 adalah kt , atau k
- Tipe 2
Laju sebanding dengan kuadrat konsentrasi dari reaktan dan pangkat satu dari konsentrasi reaktan kedua, yaitu :
V = k [R1]2[R2]
- Tipe 3
Laju sebanding dengan hasil kali konsentrasi dari ketiga reaktan yaitu :
= k
Dan bentuk terintegrasinya adalah :
ln = kt
BAB 3
METODE PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat – alat
a. Gelas kimia f.
Spiritus
b. Gelas ukur g.
Kaki tiga
c. Stop watch h.
Tabung reaksi
d.Termometer
e. Penangas air
3.1.2 Bahan – bahan
a. Larutan Na2S2O3
0,5 M
b. Larutan HCl 0,5 M
c. Larutan HCl 1 M
d. Larutan HCl 2 M
3.2 Cara Kerja.
3.2.1. Pengaruh Konsentrasi Pereaksi
- Disiapkan gelas kimia ke-1 dan diisi 25 ml larutan HCL 0,5 M.
- Disiapkan gelas kimia ke- 2 dan diisi 25 ml larutan HCL 1 M.
- Potong pita mg sama panjang.
- Masukkan pita mg
ke dalam HCL 0,5 M dan 1 M secara bersamaan.
- Hitung waktu keduanya hingga pita mg habis dah catat
hasilnya.

3.2.2. Pengaruh Luas Permukaan.
- Disiapkan 2
gelas kimia dan diisi dengan HCL 1 M.
- Siapkan 1 gr serbuk pualam dan 1 gr kristal pualam.
- Masukkan pada
masing – masing gelas kimia secara bersamaan.
- Hitung waktu habisnya dan cacat hasil pengamatan.

3.2.3. Pengaruh Suhu pada laju reaksi
- Disiapkan 1 gelas kimia dan diisi dengan 25 ml larutan Na2S2O3- kemuadian, diletakkan di atas kertas putih yang telah diberi tanda silang.
- Dimasukkan larutan HCL 2 M sebanyak 2 ml, diamati waktu yang diperlukan hingga tanda silang tidak terlihat lagi.

- Ukur suhu awal larutan tersebut.
- Larutan tersebut dipanaskan pada penangas air hingga suhunya naik 100 C

- Membandingkan dengan hasil tanpa pemanasan

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Percobaan
a. Pengaruh Konsentrasi Pereaksi.|
No
|
[HCl]
|
Pita mg
|
t
|
|
1
|
1
|
I buah
|
600 sekon
|
|
2
|
0,5
|
1 buah
|
420 sekon
|
|
No.
|
[HCl]
|
Pualam
|
t
|
|
1.
|
1M
|
Serbuk pualam
|
90 sekon
|
|
2.
|
1M
|
Kristal pualam
|
960 sekon
|
Dengan konsentrasi [HCl] 1 M dan [Na2S2O3] 0.03 M waktu yang ditempuh selama 5 sekon. Suhu awal 32°C menjadi 42°C. Hal ini membuktikan bahwa pengaruh suhu lebih cepat dari pada laju reaksi dengan pengaruh konsentrasi.
4.2 Pembahasan.
Persamaan Laju ReaksiMolaritas adalah banyaknya mol terlarut tiap satuan volume zat pelarut, hubungan dengan laju reaksi adalah, semakin besar molaritas suatu zat maka, semakin cepat laju reaksi berlangsung. Dengan demikian pada molaritas yang rendah suatu reaksi akan berjalan lebih lambat daripada molaritas yang tinggi. Hubungan antara laju reaksi dengan molaritas adalah :
V = k
Dimana : V = Laju reaksi
k = konstanta k
m = Orde reaksi zat A
n = Orde reaksi zat B
BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
- Menentukan laju reaksi suatu reaksi kimia- Mengetahui perbedaan laju reaksi tiap konsentrasi
- Mengetahui faktor – faktor yang berpengaruh pada laju reaksi
DAFTAR PUSTAKA
Purba,Michael. 2004. KMIA untuk SMA kelas XI. Jakarta;
Erlangga.
Purba,Michael. 2006. Kimia UNTK SMA KELAS XI SEMESTER 1. Jakarta;
Erlangga.
Parning, Horale, Tipan.
2007. KIMIA 2. Jakarta Timur; Yudhistira.
Syukri, 1999, kimia dasar jilid, penerbit: ITB,
Bandung.
Keenan, W.K, dkk, 1989, Kimia Untuk
Universitas, penerbit: Erlangga, jakarta.
Tim Dosen Teknik Kimia. 2011. “Penuntun Praktikum Kimia Dasar”.
Universitas Lambung Mangkurat : Banjarbaru.
Wanibesak, Emser. 2010.
“Pembuatan, Pengenceran, dan Pencampuran Larutan”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar